Bisadonasi.com – Kemdiktisaintek menilai riset teknologi yang kuat dapat membuka peluang lahirnya lebih banyak perusahaan rintisan berstatus unikorn di Indonesia. Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Mohammad Fauzan Adziman, menyampaikan pandangan itu dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu.
Menurut Fauzan, perusahaan yang bertumpu pada teknologi mendalam atau deep tech memiliki potensi tumbuh lebih cepat karena lahir dari penelitian ilmiah, ditopang keunggulan teknologi, dan sulit ditiru oleh pihak lain. Ia mencontohkan perkembangan perusahaan rintisan teknologi mendalam di Eropa.
"Di Eropa, perusahaan teknologi mendalam mencapai valuasi lebih dari satu miliar dolar AS (unikorn) dalam lima tahun tujuh bulan, atau dua tahun empat bulan lebih cepat," kata Fauzan.
Riset teknologi dan peluang unikorn Indonesia
Berdasarkan data PitchBook yang dirujuk McKinsey dan ditampilkan dalam paparannya, perusahaan rintisan deep tech di Eropa rata-rata membutuhkan lima tahun tujuh bulan untuk mencapai status unikorn. Waktu tersebut lebih singkat dibandingkan perusahaan rintisan teknologi konvensional yang rata-rata memerlukan tujuh tahun 11 bulan.
Status unikorn merujuk pada perusahaan rintisan dengan valuasi setidaknya satu miliar dolar AS atau sekitar Rp18,14 triliun. Fauzan menjelaskan bahwa teknologi mendalam merupakan inovasi yang memanfaatkan hasil penelitian, mempunyai keunggulan yang sukar direplikasi, dan dapat dikembangkan menjadi usaha dalam skala besar.
"Teknologi mendalam memanfaatkan penelitian, sesuatu yang tidak mudah ditiru oleh industri lain, dan memiliki potensi untuk dikembangkan dalam skala besar," ujarnya.
Keunggulan perusahaan berbasis teknologi mendalam antara lain terletak pada penguasaan kekayaan intelektual, teknologi yang sulit ditiru, serta kemampuannya menjawab kebutuhan jangka panjang. Kemdiktisaintek melihat energi, pangan, dan kesehatan sebagai bidang yang dapat memperoleh manfaat besar dari pengembangan inovasi tersebut. Ketiga sektor itu memerlukan solusi teknologi untuk menjawab persoalan yang ada sekaligus memperkuat kapasitas industri nasional.
Penguatan riset, talenta, dan kepercayaan investor
Fauzan menekankan bahwa peluang melahirkan unikorn tidak cukup hanya dengan memanfaatkan teknologi yang telah tersedia. Indonesia perlu memperkuat kemampuan riset agar dunia usaha mampu menciptakan inovasi sendiri. Pengembangan kapasitas industri, menurut dia, perlu berjalan bertahap, mulai dari kegiatan produksi rutin dan penyesuaian teknologi hingga inovasi produk mandiri serta penelitian dan pengembangan bersama.
"Di sinilah inovasi produk secara mandiri dan penelitian serta pengembangan bersama mulai berperan," ujar dia.
Data 2022 yang dipaparkan Fauzan menunjukkan belanja penelitian dan pengembangan oleh sektor usaha di Indonesia mencapai 16,7 persen dari total belanja penelitian dan pengembangan nasional. Persentase itu masih lebih rendah dibandingkan Taiwan sebesar 85,5 persen, Korea Selatan 79,4 persen, China 77,6 persen, dan Jepang 73,1 persen.
Karena itu, Kemdiktisaintek memandang penguatan riset di sektor usaha perlu didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia, pembiayaan, dan kepercayaan investor. Bagi perusahaan berbasis penelitian, pendanaan menjadi penting karena proses pengembangan teknologi sering membutuhkan waktu sebelum menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan secara komersial.
"Kita perlu membangun dua hal dengan kuat, yaitu talenta, kemudian kepercayaan," katanya.
Fauzan menambahkan bahwa kepercayaan membantu mengurangi ketidakpastian yang dihadapi investor ketika menilai perusahaan rintisan berbasis riset. "Investor tidak takut pada risiko, tetapi mereka takut pada ketidakpastian," tutur Fauzan.
Dukungan Kemdiktisaintek bagi penelitian aplikatif
Pada 8 Juli 2026, Kemdiktisaintek melaporkan telah mengucurkan pendanaan sekitar Rp454 miliar untuk lebih dari 1.070 judul penelitian aplikatif. Penelitian tersebut melibatkan kerja sama antara perguruan tinggi dan industri, sehingga hasil riset diharapkan dapat diarahkan pada kebutuhan nyata.
Kementerian juga membuka skema Hackathon Deeptech dengan pendanaan hingga Rp1,5 miliar bagi perguruan tinggi penyelenggara. Skema ini ditujukan untuk menjaring solusi teknologi atas persoalan nyata, termasuk pada bidang semikonduktor, pangan, dan energi. Selain itu, Program Katalisator Kemitraan Berdikari 2026 mengembangkan tiga skema, yaitu Mandala, SKALA+, dan Saintek Nusantara, guna memperluas penerapan hasil penelitian sesuai kebutuhan masyarakat dan daerah.
Pada 27 Oktober 2026, Fauzan turut menekankan pentingnya hilirisasi riset genomik dan bioteknologi. Hasil penelitian pada bidang kesehatan, pangan, dan industri perlu dikembangkan menjadi produk atau usaha berbasis teknologi melalui kolaborasi peneliti, perguruan tinggi, pelaku industri, serta investor.
FAQ tentang riset teknologi Kemdiktisaintek
Apa yang dimaksud teknologi mendalam?
Teknologi mendalam atau deep tech adalah inovasi yang bertumpu pada penelitian ilmiah, memiliki keunggulan teknologi yang sulit ditiru, dan berpotensi dikembangkan dalam skala besar.
Mengapa riset penting untuk melahirkan unikorn?
Riset dapat menghasilkan teknologi dan kekayaan intelektual yang menjadi pembeda perusahaan. Dengan inovasi yang relevan bagi kebutuhan pasar, perusahaan rintisan memiliki peluang membangun usaha bernilai tinggi.
Bidang apa yang menjadi perhatian Kemdiktisaintek?
Kemdiktisaintek menyoroti peluang inovasi pada energi, pangan, kesehatan, semikonduktor, genomik, dan bioteknologi. Pengembangan bidang tersebut memerlukan kerja sama antara perguruan tinggi, industri, peneliti, dan investor.

