Bisnis

Produksi pertanian Sidrap meningkat berkat program EA PLN

1003217109

Pompa Listrik Dorong Hasil Panen Sawah di Sidrap

Bisadonasi.com – Pemanfaatan listrik untuk kebutuhan irigasi mulai memberi dampak nyata bagi pertanian di Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap, Sulawesi Selatan. Di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, program electrifying agriculture (EA) membantu petani mengoperasikan pompa air saat kebutuhan pengairan meningkat, terutama pada periode kemarau.

Penggunaan pompa berbasis listrik menjadi salah satu penopang bagi lahan persawahan yang sebelumnya sangat bergantung pada aliran dari Bendung Takkalasi. Saat kemarau berlangsung lama, pasokan dari bendung tersebut berpotensi berkurang bahkan mengering. Kehadiran sumber air alternatif dan jaringan listrik memberi petani pilihan tambahan untuk menjaga ketersediaan air di sawah.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan Sidrap, Ibrahim, menyampaikan bahwa peningkatan hasil terlihat pada panen Agustus 2026. Produktivitas pertanian di Desa Takkalasi mencapai sekitar 10,4 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada pada kisaran tujuh ton per hektare.

“Panen Agustus 2026, produktivitas tercatat sekitar 10,4 ton per hektare, ini meningkat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran tujuh ton per hektare,” ujar Ibrahim.

Lahan Dikelola Bersama oleh Kelompok Tani

Desa Takkalasi memiliki sekitar 395 hektare area pertanian yang dikelola oleh 13 kelompok tani. Skala pengelolaan tersebut membuat kelancaran pengairan menjadi bagian penting dari kegiatan produksi. Air tidak hanya diperlukan ketika tanaman mulai tumbuh, tetapi juga perlu tersedia secara teratur agar pola tanam dan perawatan lahan dapat berjalan lebih terukur.

Sejak 2025, tersedia 39 titik sumur bor untuk membantu mengatasi keterbatasan pasokan air. Sumur-sumur tersebut kemudian dimanfaatkan bersama program listrik masuk sawah. Dengan dukungan ini, pompa air dapat digunakan untuk mengalirkan air dari sumber yang tersedia menuju lahan pertanian.

Perubahan ini tidak berdiri sendiri sebagai faktor tunggal peningkatan produksi. Pemerintah daerah juga menjalankan optimalisasi lahan, memberikan bantuan benih, menyediakan sumber air, serta mendorong penggunaan listrik dalam sistem pengairan. Rangkaian dukungan itu memperkuat upaya petani dalam menjaga produktivitas di tengah tantangan cuaca dan kebutuhan air yang berubah sepanjang musim.

“Upaya ini malah berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas pertanian di wilayah itu,” tambah Ibrahim.

Alternatif Selain Bahan Bakar Minyak

Bagi petani, listrik menyediakan pilihan pengoperasian pompa yang tidak sepenuhnya bergantung pada bahan bakar minyak. Ketersediaan alternatif energi menjadi penting karena pompa air merupakan peralatan utama ketika sawah memerlukan tambahan pengairan dari sumur bor atau sumber air lain.

Pemanfaatan listrik dalam pertanian juga berkaitan dengan cara kerja budidaya yang lebih praktis. Saat infrastruktur tersedia dan digunakan sesuai kebutuhan, pengairan dapat ditopang dengan peralatan yang lebih mudah dioperasikan dibandingkan ketergantungan penuh pada sistem konvensional. Namun, hasil yang berkelanjutan tetap membutuhkan pengelolaan lahan, air, benih, dan kegiatan budidaya secara terpadu.

Pengembangan electrifying agriculture memerlukan kerja sama antara PLN, pemerintah kabupaten, kelompok tani, pelaku usaha, serta pihak terkait lainnya. Kebutuhan di setiap wilayah tidak selalu sama, sehingga penyediaan jaringan dan infrastruktur kelistrikan perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, termasuk lokasi sumber air dan luas lahan yang membutuhkan layanan pengairan.

Penerapan Listrik untuk Beragam Kegiatan Agrikultur

General Manager PLN UID Sulselrabar Didik Wicaksono menyatakan bahwa penggunaan listrik di sektor agrikultur tidak semata-mata berkaitan dengan pertumbuhan jumlah pelanggan atau kapasitas daya yang tersambung. Pemanfaatannya juga diarahkan untuk menciptakan nilai tambah melalui kegiatan produksi yang lebih efisien bagi petani maupun pelaku usaha.

“PLN juga mendorong pemanfaatan listrik untuk berbagai kebutuhan usaha agrikultur, mulai dari pompa irigasi dan sistem pengairan hingga pencahayaan, ventilasi, serta peralatan pendukung peternakan,” urainya.

Ruang pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan listrik di sektor pertanian tidak terbatas pada sawah. Pada kegiatan agrikultur lain, listrik dapat mendukung pencahayaan, ventilasi, dan perangkat penunjang peternakan. Penggunaannya diharapkan membantu pelaku usaha menjalankan aktivitas produksi dengan pendekatan yang lebih modern dan praktis.

Bagi Desa Takkalasi, peningkatan produktivitas hingga sekitar 10,4 ton per hektare menjadi gambaran penting dari penggabungan beberapa langkah pendukung. Penyediaan sumur bor, pengoperasian pompa air menggunakan listrik, optimalisasi lahan, dan bantuan benih berjalan dalam satu arah untuk memperkuat produksi pangan.

Ke depan, keberhasilan penerapan sistem pengairan tersebut akan sangat terkait dengan pemeliharaan sarana yang sudah tersedia, pengelolaan air secara bersama, serta kesiapan infrastruktur kelistrikan. Kolaborasi antarpihak menjadi unsur penting agar pemanfaatan teknologi benar-benar menjawab kebutuhan petani dan dapat mendukung aktivitas pertanian saat pasokan air dari sumber utama menurun.

Frequently Asked Questions

What is Produksi pertanian Sidrap meningkat berkat program?

Produksi pertanian Sidrap meningkat berkat program is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Produksi pertanian Sidrap meningkat berkat program matter?

Produksi pertanian Sidrap meningkat berkat program matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.