Lintas Kota

PMI DKI dan Pemkot Jaksel ziarah ke makam Bung Hatta di Tanah Kusir

1001077487

PMI DKI dan Pemkot Jaksel Kenang Peran Bung Hatta melalui Ziarah di Tanah Kusir

Bisadonasi.com – Palang Merah Indonesia (PMI) DKI Jakarta bersama Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menggelar ziarah ke makam Mohammad Hatta atau Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu. Kegiatan itu menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 PMI sekaligus penghormatan kepada salah satu proklamator Indonesia yang dikenal sebagai Bapak PMI.

Ziarah tersebut tidak hanya dimaknai sebagai penghormatan kepada tokoh bangsa, melainkan juga pengingat atas gagasan kemanusiaan yang ikut mengiringi perjalanan awal PMI. Bung Hatta tercatat sebagai ketua pertama organisasi tersebut setelah PMI berdiri pada 17 September 1945.

Mengenang fondasi gerakan kemanusiaan

Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo menyampaikan bahwa makam Bung Hatta dipilih sebagai lokasi ziarah karena peran besarnya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia serta perkembangan PMI.

“Hari ini kami bersama PMI DKI Jakarta melaksanakan ziarah ke makam Bung Hatta, yang kita kenal sebagai Bapak Proklamator dan juga Bapak PMI (Palang Merah Indonesia),” kata Syafrin Liputo.

Melalui kegiatan ini, jajaran pemerintah kota dan PMI mengajak masyarakat untuk kembali melihat nilai yang mendasari pelayanan kemanusiaan: kepedulian, kesiapsiagaan, dan kerja bersama. Nilai tersebut tetap relevan dalam kehidupan perkotaan, ketika kebutuhan bantuan kemanusiaan dan ketersediaan darah memerlukan partisipasi luas dari warga.

Peran Bung Hatta dalam PMI juga mencerminkan pandangan jauh ke depan pada masa awal republik. Ketika Indonesia baru merdeka, kebutuhan akan organisasi yang mampu menggerakkan bantuan kemanusiaan menjadi salah satu perhatian penting. PMI kemudian hadir sebagai wadah yang melibatkan masyarakat dalam pelayanan sosial dan kemanusiaan.

Gagasan donor darah sejak sebelum kemerdekaan

Putri Bung Hatta, Gemala Hatta, mengisahkan bahwa pemikiran ayahnya mengenai donor darah telah tumbuh ketika ia berada di Jenewa, Swiss, sebelum Indonesia merdeka. Dalam perjalanan tersebut, Bung Hatta mengunjungi markas Palang Merah Internasional dan bertemu dengan sejumlah tokoh dunia.

Pengalaman itu mendorong kesadaran tentang pentingnya kesiapan bangsa untuk memenuhi kebutuhan darah bagi masyarakat setelah kemerdekaan. Gagasan tersebut terus menjadi perhatian Bung Hatta dan kemudian berkaitan dengan arah awal gerakan PMI di Indonesia.

“Waktu itu Ayah juga menelurkan ide, bahwa bangsa yang ada rakyat itu pasti harus memikirkan donor darah. Itu asal-mulanya. Jadi setelah itu beliau sering membahas tentang itu. Tapi dari awal sudah kenal dengan tokoh-tokoh dunia karena beliau kan sudah datang ke markas besar Palang Merah Internasional di Jenewa itu. Maka pada saat Indonesia merdeka, konsep pertama antara lain adalah memikirkan ke depan,” ujarnya.

Kisah itu menempatkan donor darah bukan sekadar kegiatan sukarela yang dilakukan saat ada kebutuhan mendesak. Donor darah merupakan bentuk kesiapan sosial, karena darah yang tersedia dapat membantu pelayanan bagi pasien yang membutuhkannya. Kesadaran warga untuk mendonorkan darah secara rutin menjadi unsur penting dalam mendukung ketersediaan darah.

Ajakan meningkatkan kepedulian warga

Gemala berharap masyarakat, terutama kalangan muda, semakin mengenal PMI dan bersedia mengambil peran dalam kegiatan donor darah. Ia juga menaruh perhatian pada kebutuhan golongan darah yang sulit diperoleh serta pentingnya pengelolaan persediaan darah secara baik.

“Karena itu harus lebih sounding ke masyarakat, bahwa mereka harus lebih banyak donor darah, terutama darah yang langka. Cuma bidang saya kesehatan, karena itu saya mengerti kadang-kadang mencari darah yang langka itu susah sekali. Dan tidak semua rumah sakit punya bank darah,” ucapnya.

Pesan tersebut menggarisbawahi bahwa manfaat donor darah sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Kepedulian terhadap kebutuhan darah langka dapat dimulai dari kesediaan warga yang memenuhi syarat untuk menjadi pendonor, sekaligus membangun pemahaman bahwa ketersediaan darah tidak dapat dijaga tanpa partisipasi berkelanjutan.

Dalam rangka Bulan Dana PMI, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan juga mengajak warga memberikan kontribusi bagi kegiatan kemanusiaan. Partisipasi itu tidak harus diwujudkan dalam nilai besar. Semangat gotong royong dan kepedulian sederhana dari banyak orang menjadi kekuatan utama untuk menopang layanan kemanusiaan.

Peringatan HUT ke-81 PMI melalui ziarah di Tanah Kusir menjadi penghubung antara warisan pemikiran Bung Hatta dan kebutuhan kemanusiaan saat ini. Penghormatan kepada tokoh bangsa tersebut diharapkan dapat diterjemahkan dalam tindakan nyata, mulai dari mendukung kegiatan PMI hingga ikut menjaga ketersediaan darah bagi sesama.

Frequently Asked Questions

What is PMI DKI dan Pemkot Jaksel ziarah?

PMI DKI dan Pemkot Jaksel ziarah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does PMI DKI dan Pemkot Jaksel ziarah matter?

PMI DKI dan Pemkot Jaksel ziarah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.