Warta Bumi

BPBD Jatim kerahkan helikopter water bombing padamkan karhutla Semeru

WhatsApp-Image-2026-09-02-at-16.44.19

Operasi Udara Padamkan Api di Lereng Semeru: Helikopter BNPB Turun Tangan dari Lampung

Bisadonasi.com – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda kawasan Gunung Semeru sejak akhir Agustus 2026 memaksa otoritas penanggulangan bencana di Jawa Timur mengambil langkah darurat dari udara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, bekerja sama dengan tim gabungan lintas instansi, mengerahkan helikopter untuk melakukan water bombing guna meredam kobaran api yang terus mengancam kawasan pegunungan tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Langkah ini menjadi krusial mengingat sebagian titik api berada di medan yang nyaris mustahil dijangkau oleh personel darat.

Helikopter PK-DAP BNPB Dikerahkan dari Lampung

Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan di Sidoarjo pada Rabu bahwa unit helikopter yang digunakan adalah PK-DAP milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pesawat tersebut dipindahkan khusus dari Lampung untuk mendukung operasi pemadaman di kawasan Semeru. Titik utama water bombing difokuskan di sisi barat Pos 1 Pendakian, tepatnya pada tebing Punggungan Desa Ranupane, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang — area yang menjadi jalur pendakian populer sekaligus kawasan lindung di dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Hingga pukul 12.00 WIB pada hari operasi, helikopter berkapasitas bucket 1.000 liter itu telah menyelesaikan 21 kali curahan air ke titik api. Total volume air yang diturunkan mencapai 21.000 liter, sebuah upaya masif untuk menekan intensitas kebakaran di medan yang curam dan berbatu.

“Hingga pukul 12.00 WIB, helikopter berkapasitas bucket 1.000 liter ini telah berhasil melakukan water bombing di lokasi tersebut sebanyak 21 kali dengan curahan air sebanyak 21.000 liter.”

Dua Titik Api Masih Menyala di Medan Ekstrem

Walaupun operasi udara telah berjalan, Gatot Soebroto menegaskan bahwa dua titik api masih aktif di kawasan Semeru. Titik pertama berada di sekitar Ranu Kumbolo, danau glasial yang terletak pada ketinggian sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut dan menjadi destinasi pendakian favorit wisatawan. Titik kedua berada di Ranu Pane B29, sebuah danau kecil yang posisinya jauh lebih tersembunyi dan terjal.

Kedua lokasi tersebut memiliki kemiringan lereng yang sangat curam, sehingga akses dari jalur darat menjadi sangat terbatas. Personel pemadam tidak dapat membawa peralatan berat ke area tersebut, sehingga ketergantungan pada operasi udara menjadi satu-satunya opsi efektif untuk menjangkau sumber api.

Angin Kencang Jadi Penghambat Utama

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi tim di lapangan adalah kondisi angin yang bertiup kencang di ketinggian. Angin tidak hanya mempercepat perambatan api ke area yang belum terbakar, tetapi juga mengganggu stabilitas helikopter saat melakukan manuver curahan air. Setiap hempasan angin dapat mengubah arah semburan air dan meningkatkan risiko bagi kru pesawat.

“Kendala di lokasi adalah angin yang kencang. Selain membuat api cepat menjalar, operasi water bombing juga terkendala, akibat hempasan angin.”

Tim Darat Tetap Bergerak: Sekat Bakar dan Pemadaman Manual

Di samping upaya dari udara, tim gabungan jalur darat terus bekerja tanpa henti. Personel di lapangan melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan seadanya, sekaligus membangun sekat bakar — garis tanah gundur yang memutus jalur perambatan api. Tujuan utama sekat bakar ini adalah mencegah kobaran meluas ke permukiman warga yang berada di kaki gunung, khususnya di Desa Ranupane dan desa-desa sekitar Kecamatan Senduro yang populasi penduduknya bergantung pada lahan pertanian dan perkebunan di lereng Semeru.

Strategi dua jalur ini — udara dan darat secara simultan — merupakan protokol standar penanganan kebakaran hutan di kawasan pegunungan Indonesia, di mana satu metode saja tidak cukup untuk mengatasi api yang menyebar di medan tiga dimensi.

Luas Lahan Terbakar Capai Sekitar 600 Hektare

Data yang dikompilasi oleh Pusdalop BPBD Jatim menunjukkan bahwa total luas lahan yang terdampak kebakaran di kawasan Gunung Semeru, terhitung sejak 26 Agustus 2026 hingga saat operasi berlangsung, telah mencapai sekitar 600 hektare. Angka ini mencakup area hutan sekunder, semak belukar, dan vegetasi alpin yang menjadi habitat berbagai spesies endemik Jawa. Kerusakan pada tutupan vegetasi di ketinggian juga berpotensi meningkatkan risiko erosi tanah dan perubahan pola aliran air yang bermuara ke sungai-sungai di bagian bawah lereng.

Gunung Semeru sendiri merupakan gunung berapi aktif tertinggi di Jawa dengan puncak Mahameru setinggi 3.682 meter. Kawasan di sekitarnya dilindungi sebagai bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, yang juga menjadi sumber mata air bagi ribuan warga di Kabupaten Lumajang dan Malang. Oleh karena itu, setiap kebakaran di kawasan ini tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga pada ketersediaan air bersih dan keselamatan masyarakat di hilir.

Pengharapan Cuaca Mendukung untuk Operasi Lanjutan

Gatot Soebroto menyampaikan harapan agar kondisi cuaca pada hari berikutnya lebih bersahabat bagi kelangsungan operasi udara. Stabilitas angin menjadi faktor penentu keselamatan kru helikopter dan efektivitas curahan air ke titik api.

“Semoga besok cuacanya lebih mendukung, karena angin yang kencang mempengaruhi keamanan unit helikopter saat melakukan operasi water bombing.”

Selama api belum padam sepenuhnya, koordinasi antara BPBD Jatim, BNPB, TNI, Polri, dan relawan lokal akan terus berjalan. Masyarakat di sekitar kawasan Senduro diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi asap tebal, hujan abu, dan percikan api yang dapat terbawa angin ke permukiman. Pemantauan cuaca dan kondisi medan akan dilakukan secara berkala untuk menentukan apakah operasi udara dapat dilanjutkan atau perlu disesuaikan dengan situasi di lapangan.

Frequently Asked Questions

What is BPBD Jatim kerahkan helikopter water bombing?

BPBD Jatim kerahkan helikopter water bombing is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BPBD Jatim kerahkan helikopter water bombing matter?

BPBD Jatim kerahkan helikopter water bombing matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.