Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi kewirausahaan sosial dunia
Dua Pengusaha Perempuan Indonesia Raih Penghargaan Kewirausahaan Sosial Global
Bisadonasi.com – Inovasi dari Indonesia mendapat sorotan di panggung internasional setelah Azalea Ayuningtyas, CEO Birufinery, dan Jihan Alfiyyah Munajat atau Alfi, CEO HerLens, terpilih sebagai pemenang kompetisi kewirausahaan sosial Unlock Her Future 2026 di Shanghai, Jumat (23/10).
Keduanya berpeluang memperoleh dukungan pendanaan hingga 100 ribu dolar AS, setara sekitar Rp1,8 miliar. Dana tersebut diharapkan mempercepat pengembangan dua solusi yang berangkat dari kebutuhan nyata di Indonesia: pertanian yang lebih berkelanjutan serta akses pemeriksaan awal kanker serviks, terutama bagi perempuan di wilayah pedesaan.
Unlock Her Future merupakan ajang tahunan yang digelar sejak 2022 oleh The Bicester Collection, perusahaan asal Inggris di sektor ritel mewah dan wisata belanja. Pada penyelenggaraan kali ini, 12 finalis dari Asia Timur dan Asia Tenggara dipilih dari sekitar 1.500 pendaftar.
Birufinery Mengolah Rumput Laut untuk Pertanian
Birufinery adalah perusahaan rintisan yang berdiri pada 2024 dan beroperasi di Flores serta Kupang, Nusa Tenggara Timur. Perusahaan ini mengembangkan biostimulan, atau vitamin tanaman, dari rumput laut.
Produk tersebut dirancang untuk membantu menyuburkan tanah sekaligus berkaitan dengan upaya mengurangi eutrofikasi laut. Kandungan nitrogen yang berlebih di perairan dapat memicu ketidakseimbangan ekosistem, sehingga pemanfaatan rumput laut memiliki nilai lingkungan di samping manfaat pertaniannya.
Azalea melihat penghargaan ini sebagai kesempatan untuk memperluas manfaat Birufinery kepada petani kecil. Selain edukasi penggunaan biostimulan, perusahaan itu juga ingin mengembangkan rantai pasok rumput laut di NTT dan mendukung praktik budidaya yang lebih ramah terhadap laut.
“Saya sangat bersyukur bisa berada di sini. Saya berkesempatan bertemu dengan para wirausaha perempuan yang luar biasa, baik para finalis maupun para alumni. Merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa menjadi salah satu pemenang tahun ini, karena saya tahu setiap orang di sini berjuang dengan sepenuh hati,” kata Azalea saat menerima penghargaan.
Ia menekankan bahwa tambahan pendanaan akan membuka ruang yang lebih besar untuk mendampingi petani kecil. Program tersebut juga dapat mencakup pengenalan budidaya rumput laut yang menjaga kondisi laut serta penyediaan bibit unggul bagi para pembudidaya.
“Kemenangan ini benar-benar kesempatan untuk merefleksikan segala kegiatan yang dilakukan teman-teman di Birufinery dan berharap dukungan dana dari ‘Bicester’ dapat digunakan untuk mengedukasi lebih banyak petani-petani kecil mengenai biostimulan dari kami,” ujar Azalea.
HerLens Dorong Deteksi Dini Kanker Serviks
Penghargaan berikutnya diberikan kepada Alfi melalui HerLens, platform yang dikembangkan pada 2024. HerLens memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk membantu bidan menjalankan pemeriksaan awal kanker serviks pada perempuan Indonesia, dengan perhatian khusus pada daerah pedesaan.
Keberadaan alat bantu pemeriksaan awal menjadi penting karena kanker serviks masih menjadi persoalan kesehatan besar. Data Kementerian Kesehatan mencatat Indonesia berada di peringkat ketiga dunia untuk jumlah kasus kanker serviks. Setiap tahun, sekitar 36.000 perempuan di Indonesia menerima diagnosis penyakit ini, sementara sekitar 21.000 orang meninggal dunia.
HerLens berencana meningkatkan jangkauan edukasi kepada perempuan agar tanda-tanda kanker serviks dapat dikenali lebih cepat. Upaya ini menempatkan teknologi sebagai pendukung tenaga kesehatan, khususnya bidan yang berhadapan langsung dengan kebutuhan layanan kesehatan reproduksi di banyak komunitas.
“Saya merasa sangat gugup. Terima kasih telah memercayai saya dan memercayai misi kami. Saya sadar masih banyak yang harus saya lakukan agar misi ini terus berkembang dan dapat bermanfaat bagi dunia, khususnya bagi Indonesia,” kata Alfi dengan mata berkaca-kaca.
Bagi HerLens, perluasan edukasi dan akses pemeriksaan dini dapat menjadi bagian penting dari langkah pencegahan. Teknologi tidak menggantikan peran tenaga medis, tetapi dapat membantu membuka akses awal bagi perempuan yang selama ini menghadapi keterbatasan layanan.
Empat Pemenang dari Kawasan Asia
Selain dua wakil Indonesia, penghargaan juga diraih Kyle Li dari China melalui 38 Fixers. Inisiatif ini melatih perempuan menjadi teknisi perbaikan rumah, membuka keterampilan dan peluang kerja di bidang yang masih jarang diakses perempuan.
Pemenang lain adalah Nhung Tran Huyen dari Vietnam lewat Tham Nhung Social Enterprise. Usaha sosial tersebut menyediakan bantuan kesehatan mental dan dukungan hukum bagi pekerja migran perempuan yang bekerja di lingkungan pabrik.
Dewan juri juga memberikan honorable mention kepada Jieun Lee dari Korea Selatan, pendiri Giboo. Platform itu memakai AI untuk mempertemukan pendana filantropi dengan program sosial yang membutuhkan dukungan. Penghargaan serupa diterima Prangthong Tiengkate dari Thailand melalui Bamboo Family Market, pasar kerajinan komunitas yang telah memberdayakan lebih dari 60 perempuan perajin.
“Ini merupakan keputusan yang sangat sulit. Kami membutuhkan waktu empat jam untuk mengambil keputusan, tetapi sebenarnya proses pertimbangan tersebut telah berlangsung selama beberapa hari,” kata supermodel Thailand Cindy Bishop, perwakilan dewan juri.
Penilaian mencakup kekuatan gagasan, kemampuan usaha untuk diperluas, serta cara para pendiri menjalankan solusi mereka. Hasil kompetisi ini memperlihatkan bahwa kewirausahaan sosial tidak hanya berbicara mengenai model bisnis, tetapi juga tentang kemampuan menjawab persoalan lingkungan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan akses ekonomi secara berkelanjutan.
Bagi Azalea dan Alfi, kemenangan di Shanghai menjadi pintu untuk membawa inovasi dari NTT dan layanan kesehatan perempuan Indonesia ke tahap pengembangan berikutnya. Dukungan pendanaan yang tersedia dapat memperkuat kerja bersama petani, pembudidaya rumput laut, bidan, dan perempuan yang membutuhkan akses informasi kesehatan lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi?Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi matter?Dua wirausaha perempuan RI juarai kompetisi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.