Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

KISI nilai prospek industri EBT tetap cerah di tengah tekanan pasar

Published · Updated · By Rizki Hakim - bisadonasi.com

Foto : Rizki Hakim - bisadonasi.com

Prospek industri EBT tetap cerah di tengah tekanan pasar

Bisadonasi.com – KISI nilai prospek industri EBT tetap positif, termasuk untuk sektor panas bumi, meski pasar saham Indonesia sedang menghadapi tekanan. Tim Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menilai energi baru terbarukan memiliki fondasi bisnis yang menarik karena ditopang kebutuhan energi bersih dan kontrak jangka panjang. Dalam penilaian tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menjadi salah satu emiten yang perlu diperhatikan investor.

Tim Riset KISI menyampaikan pandangan positif terhadap industri panas bumi nasional. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan saham dan realisasi pertumbuhan perusahaan. Kondisi pasar yang berfluktuasi tidak serta-merta menghapus potensi sektor EBT, terutama bagi perusahaan dengan pendapatan yang lebih terjaga melalui kontrak jangka panjang.

Faktor penting yang perlu dicermati investor

Salah satu katalis yang dinantikan pasar adalah revisi Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 tentang tarif listrik energi terbarukan. Revisi aturan tersebut hingga kini belum terbit, padahal kebijakan tarif dapat menjadi penentu penting bagi pengembangan proyek-proyek EBT di Indonesia.

Selain perkembangan regulasi, KISI menyoroti pelaksanaan proyek panas bumi PGEO. Pengembangan proyek Hululais serta proyek co-generation berkapasitas 45 megawatt (MW) menjadi bagian dari faktor operasional yang perlu dipantau. Keberhasilan eksekusi proyek akan memengaruhi kemampuan perusahaan dalam menambah kapasitas dan menjaga pertumbuhan produksi listrik panas bumi.

Aspek lain yang patut diperhatikan adalah porsi saham publik atau free float PGEO yang sebesar 3,9 persen dan perlu dinaikkan secara bertahap. Investor juga perlu mencermati arah suku bunga serta pergerakan nilai tukar rupiah. Kedua faktor makroekonomi tersebut dapat memengaruhi sentimen pasar, meski karakter pendapatan perusahaan energi panas bumi tidak sepenuhnya sama dengan emiten yang lebih bergantung pada konsumsi domestik.

Pendapatan berbasis dolar AS menjadi penopang PGEO

KISI nilai prospek industri EBT tetap menarik karena model bisnis PGEO memiliki sumber pendapatan berbasis dolar AS dan kontrak jangka panjang. Sekitar 96 persen pendapatan PGEO telah terkontrak dengan PLN selama 30 tahun melalui skema take-or-pay sebesar 69–90 persen. Struktur tersebut dinilai dapat membantu menjaga arus kas ketika pasar saham mengalami pelemahan.

“Untuk PGEO, sekitar 96 persen pendapatan terkontrak dengan PLN selama 30 tahun dengan skema take-or-pay 69-90 persen. Artinya, arus kas tidak ikut turun saat indeks jatuh,” kata Tim Riset KISI.

Dalam laporan keuangan kuartal II 2026, PGE membukukan pendapatan sebesar 235,027 juta dolar AS pada semester I 2026. Angka itu meningkat 14,7 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Laba bersih perusahaan tercatat sebesar 79,605 juta dolar AS, tumbuh 15,48 persen yoy.

Dari sisi operasional, produksi listrik panas bumi PGE sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai sekitar 4.114 gigawatt hour (GWh), naik 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini menunjukkan peningkatan produksi tetap berjalan di tengah kondisi pasar yang penuh tekanan.

Kinerja operasional dan kondisi keuangan

Equivalent availability factor (EAF) kumulatif PGEO mencapai 98,51 persen per September 2026. Capaian tersebut berada di atas rencana sebesar 92,20 persen, yang mencerminkan tingkat kesiapan dan keandalan pembangkit panas bumi dalam beroperasi.

Per Juni 2026, ekuitas perusahaan tercatat sebesar 2,006 miliar dolar AS. Posisi kas dan setara kas mencapai 656,6 juta dolar AS. Pada semester I 2026, PGE mengelola kapasitas panas bumi sebesar 727 MW secara mandiri, dengan margin EBITDA 78,3 persen dan rasio utang bersih terhadap EBITDA sebesar 0,1 kali.

Bagi investor, KISI nilai prospek industri EBT tetap perlu dinilai secara menyeluruh, bukan hanya dari sentimen pasar harian. Kapasitas terpasang, capacity factor, struktur kontrak, tarif listrik, margin EBITDA, dan leverage merupakan sejumlah indikator penting untuk melihat kekuatan bisnis perusahaan panas bumi dalam jangka panjang.

FAQ prospek industri EBT dan PGEO

Mengapa industri EBT dinilai tetap memiliki peluang?

Industri EBT memiliki peluang karena kebutuhan energi bersih terus menjadi perhatian, sementara proyek pembangkit dapat ditopang oleh kontrak listrik jangka panjang. Untuk PGEO, sebagian besar pendapatan telah terikat kontrak dengan PLN sehingga arus kas memiliki dasar yang lebih stabil.

Apa risiko utama yang perlu diperhatikan investor PGEO?

Investor perlu memantau kepastian revisi Perpres Nomor 112 Tahun 2022, pelaksanaan proyek Hululais dan co-generation 45 MW, peningkatan free float, serta perubahan suku bunga dan nilai tukar rupiah.

Indikator apa yang relevan untuk menilai emiten panas bumi?

Indikator utamanya mencakup kapasitas terpasang, tingkat produksi, capacity factor, keandalan operasional, kontrak dan tarif listrik, margin EBITDA, posisi kas, serta rasio leverage. Dengan menilai seluruh faktor tersebut, investor dapat melihat alasan KISI nilai prospek industri EBT tetap cerah secara lebih terukur.

Related Reading