Bisadonasi.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kemendukbangga tingkatan kualitas keluarga hadapi populasi menua

Published · Updated · By Zahra Pratama - bisadonasi.com

Foto : Zahra Pratama - bisadonasi.com

Penguatan Keluarga Disiapkan untuk Menjawab Tantangan Penduduk Menua

Bisadonasi.com – Indonesia memasuki fase perubahan demografi yang menuntut kesiapan keluarga, layanan publik, dan kebijakan kependudukan yang lebih menyeluruh. Jumlah warga berusia 65 tahun ke atas diproyeksikan terus meningkat, sementara kelompok usia produktif 15–64 tahun serta anak-anak berusia 0–14 tahun cenderung menyusut.

Perubahan tersebut tergambar dalam Sensus Penduduk 2020 dan proyeksi komposisi penduduk Indonesia untuk periode 1970 hingga 2040 yang disusun BPS, Bappenas, dan UNFPA. Kondisi ini membuat pembangunan keluarga tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kelahiran, melainkan juga dari kemampuan keluarga menjaga kesehatan, kesejahteraan, kemandirian, dan kualitas hidup setiap anggotanya sepanjang siklus kehidupan.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menempatkan penguatan kualitas serta ketahanan keluarga sebagai salah satu jawaban untuk menghadapi fenomena populasi menua. Arah kebijakan itu disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta pada Selasa.

KB Berorientasi pada Kualitas Keluarga

Wihaji menjelaskan bahwa pemaknaan program keluarga berencana berkembang. Jika sebelumnya kampanye KB sangat dikenal dengan gagasan “dua anak cukup”, kini perhatian diperluas menuju pembentukan keluarga yang berkualitas.

“Peran strategis program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dalam menghadapi perubahan struktur penduduk adalah dengan menjaga keseimbangan struktur lewat pengelolaan kuantitas penduduk, serta memperkuat kualitas penduduk dan ketahanan keluarga,” ujar Wihaji.

Pengelolaan jumlah penduduk dilakukan melalui sejumlah langkah yang saling berkaitan. Di antaranya adalah pendewasaan usia perkawinan dan pencegahan perkawinan anak, penguatan pelayanan keluarga berencana, serta peningkatan kesehatan ibu dan anak. Penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang juga menjadi bagian dari upaya tersebut.

Langkah berikutnya mencakup penyelarasan kebijakan pengelolaan kualitas dan kuantitas penduduk secara asimetri. Pendekatan ini penting karena kebutuhan dan kondisi kependudukan dapat berbeda antarwilayah. Kemendukbangga/BKKBN juga mendorong kampanye serta sosialisasi keluarga berencana yang berangkat dari budaya lokal dengan melibatkan tokoh agama, tokoh adat, dan kelompok pemuda.

Pendekatan berbasis komunitas dipandang relevan karena keputusan tentang perkawinan, kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, dan perencanaan keluarga sering kali dipengaruhi lingkungan sosial terdekat. Pelibatan unsur masyarakat diharapkan membuat pesan pembangunan keluarga lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Program untuk Anak, Remaja, hingga Lansia

Selain menjaga keseimbangan struktur penduduk, pemerintah menyiapkan program yang menyentuh berbagai tahap kehidupan keluarga. Fokusnya adalah meningkatkan ketahanan serta kemandirian keluarga, termasuk saat Indonesia menghadapi pertambahan proporsi warga lanjut usia.

“Untuk memperkuat kualitas penduduk dan ketahanan keluarga, Kemendukbangga/BKKBN fokus pada ketahanan dan kemandirian keluarga melalui berbagai program,” paparnya.

Program yang dijalankan meliputi Bina Keluarga Balita (BKB), Taman Asuh Sayang Anak atau TAMASYA, dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA). Ketiganya memiliki keterkaitan dengan pengasuhan, dukungan terhadap keluarga, serta penguatan aspek ekonomi rumah tangga.

Kemendukbangga/BKKBN juga mengembangkan Kampung Keluarga Berkualitas sebagai ruang penguatan pembangunan keluarga di tingkat masyarakat. Sementara itu, ketahanan remaja dan pemberdayaan lansia didorong melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) serta Akademi Keluarga Indonesia.

Perhatian terhadap lansia turut diwujudkan melalui program Lansia Berdaya atau Sidaya. Keberadaan program ini menjadi semakin penting dalam konteks populasi menua, ketika keluarga perlu memiliki kesiapan untuk mendampingi anggota keluarga lanjut usia tanpa mengabaikan hak, kesehatan, dan peran mereka di tengah masyarakat.

Perubahan demografi juga menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam menyiapkan generasi produktif sekaligus memastikan lansia tetap memperoleh dukungan yang layak. Karena itu, penguatan keluarga mencakup hubungan antargenerasi: anak memperoleh pengasuhan yang baik, remaja memiliki ketahanan, orang tua dapat menjalankan perannya, dan lansia tetap diberdayakan.

Percepatan Penurunan Stunting Tetap Menjadi Prioritas

Di tengah agenda menghadapi populasi menua, percepatan penurunan stunting tetap menjadi perhatian utama. Kemendukbangga/BKKBN menjalankan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau Genting dan Dapur Sehat Atasi Stunting atau Dashat sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia sejak dini.

Rekapitulasi seluruh provinsi hingga 3 September 2026 mencatat sekitar 1 juta keluarga berisiko stunting telah memperoleh bantuan melalui program Genting. Bentuk dukungannya mencakup edukasi, nutrisi, akses air bersih, pemberdayaan ekonomi, rumah layak huni, serta jamban sehat.

Program tersebut melibatkan 159.587 mitra Orang Tua Asuh (OTA). Nilai bantuan yang diperkirakan berasal dari para mitra OTA mencapai Rp72 miliar. Cakupan bantuan yang beragam menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga kondisi sanitasi, tempat tinggal, pengetahuan keluarga, dan kemampuan ekonomi rumah tangga.

Kemendukbangga/BKKBN bersama Komisi IX DPR RI menyatakan komitmen untuk memperkuat kebijakan pembangunan keluarga. Fokus kerja sama mencakup perluasan jangkauan dan peningkatan mutu layanan keluarga berencana, penguatan pendampingan bagi keluarga berisiko stunting, serta koordinasi yang lebih terpadu dalam percepatan penurunan stunting.

Dengan perubahan komposisi penduduk yang berlangsung hingga beberapa dekade mendatang, keberhasilan pembangunan keluarga akan semakin menentukan kesiapan Indonesia menghadapi masa depan. Pengelolaan jumlah penduduk, kesehatan keluarga, pengasuhan anak, pemberdayaan remaja, perlindungan lansia, dan pencegahan stunting perlu berjalan dalam satu arah agar kualitas hidup masyarakat dapat terus diperkuat.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Kemendukbangga tingkatan kualitas keluarga hadapi populasi?

Kemendukbangga tingkatan kualitas keluarga hadapi populasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemendukbangga tingkatan kualitas keluarga hadapi populasi matter?

Kemendukbangga tingkatan kualitas keluarga hadapi populasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.