Kemendiktisaintek: Ragi adaptif bentuk empati sains pada perajin tempe
Ragi Adaptif dari UI: Ketika Sains Menjawab Ancaman Iklim dan Menjaga Warisan Tempe Nusantara
Bisadonasi.com – Perubahan iklim yang kian menggerus stabilitas rantai pangan global menuntut respons cepat dari dunia riset. Di tengah tekanan tersebut, sekelompok periset Universitas Indonesia (UI) menghadirkan inovasi yang menyentuh dua ranah sekaligus: ketahanan pangan dan pelestarian praktik fermentasi tradisional. Produk riset mereka berupa ragi adaptif—kombinasi beberapa spesies kapang Rhizopus asli Indonesia—yang dirancang agar proses pembuatan tempe tetap berjalan optimal meski suhu dan kelembapan lingkungan berfluktuasi secara ekstrem.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan bahwa pengembangan ragi ini bukan semata terobosan teknis-biologis. Bagi kementerian, langkah tersebut merupakan wujud empati ilmiah terhadap kegelisahan para perajin tempe yang selama ini bergantung pada kondisi cuaca dan iklim untuk keberhasilan fermentasi produk mereka.
"Riset ragi yang memanfaatkan kekayaan kapang Rhizopus asli Indonesia ini hadir bukan sekadar sebagai terobosan biologis, melainkan sebagai bentuk empati sains terhadap kegelisahan para perajin," ujar Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Yudi Darma di Jakarta, Jumat.
Tempe: Lebih dari Sekadar Pangan
Yudi Darma menyampaikan pernyataan tersebut dalam diskusi publik bertajuk "Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan" yang berlangsung di Antara Heritage Center (AHC), Jakarta, pada Rabu (2/9/2026). Acara itu mempertemukan akademisi, pelaku industri, perwakilan pemerintah, dan pakar pangan dalam satu forum untuk membahas masa depan ragi Nusantara sebagai instrumen penguatan ketahanan pangan nasional.
Dalam paparannya, Yudi menekankan bahwa tempe menempati posisi yang jauh melampaui fungsi nutrisi semata. Bagi masyarakat Indonesia, tempe adalah artefak budaya yang menautkan generasi ke generasi melalui praktik fermentasi yang diwariskan secara turun-temurun.
"Tempe bukanlah sekadar panganan pengganjal lapar. Ia adalah mahakarya Nusantara yang mewakili keluhuran budi dan kelangsungan hidup antargenerasi. Jejak sejarahnya tertanam kuat, salah satunya dalam Serat Centhini (1815), yang mana tempe dihidangkan sebagai lambang keramahtamahan, keharmonisan, dan kecukupan gizi masyarakat Jawa," ujarnya.
Sebagaimana tercatat dalam naskah Serat Centhini yang disusun pada tahun 1815, tempe telah lama menjadi simbol keramahan dan kecukupan gizi dalam tradisi Jawa. Namun, perjalanan budaya pangan ini tidak bebas dari stigma. Pada era kolonial, tempe kerap dipandang sebagai penganan kelas bawah—sebuah label yang melekat selama puluhan tahun dan merendahkan nilai sosial makanan tersebut di mata masyarakat kolonial maupun elite lokal.
Reputasi Global yang Dibangun Sejak 1965
Stigma kolonial itu baru benar-benar runtuh pada tahun 1965, ketika Prof. Ko Swan Djien, yang memimpin Laboratorium Mikrobiologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), mempublikasikan hasil riset fermentasi tempe yang dikerjakan bersama jejaring riset di Amerika Serikat. Publikasi tersebut membuka mata komunitas ilmiah dunia terhadap potensi biologis tempe.
Sejak saat itu, dunia medis dan gizi internasional mengakui tempe sebagai superfood—sumber protein nabati unggul yang kaya antioksidan, berperan dalam peningkatan imunitas, penurunan kadar kolesterol, serta menjadi andalan rehabilitasi gizi bagi anak-anak penderita gangguan pencernaan kronis. Pengakuan global ini mengubah posisi tempe dari makanan pinggiran menjadi komoditas pangan fungsional yang diperhitungkan di pasar internasional.
Metodologi Riset: Living Lab dan Umpan Balik Pengguna
Tim periset UI yang mengembangkan ragi adaptif bekerja di bawah Program Bestari Saintek dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Pendekatan yang digunakan bukan sekadar eksperimen di ruang tertutup laboratorium, melainkan strategi living lab: pengujian dilakukan dalam kondisi nyata produksi tempe, dengan memanfaatkan umpan balik langsung dari para perajin sebagai data kalibrasi.
Prof. Wellyzar Sjamsuridzal, periset Bestari Saintek sekaligus akademisi UI, menjelaskan bahwa riset ragi ini juga merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk memahami dan menjaga biodiversitas mikroba Indonesia. Keragaman spesies Rhizopus yang tumbuh secara alami di berbagai ekosistem Nusantara menjadi bahan baku genetik yang tak ternilai bagi inovasi pangan.
"Ragi tempe merupakan bagian penting dari upaya memanfaatkan biodiversitas Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan. Melalui riset dan kolaborasi, keragaman mikroorganisme dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Menghadapi Volatilitas Iklim
Salah satu tantangan utama yang mendorong pengembangan ragi adaptif adalah pengaruh suhu dan kelembapan terhadap keberhasilan fermentasi tempe. Dalam kondisi iklim yang semakin tidak menentu—dengan gelombang panas yang lebih sering dan pola curah hujan yang berubah—ragi konvensional kerap gagal menghasilkan fermentasi yang optimal. Ragi adaptif yang dikembangkan tim UI dirancang agar tetap aktif dan efektif dalam rentang kondisi lingkungan yang lebih luas, sehingga perajin tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca untuk keberhasilan produksi.
Implikasinya bersifat ganda: di satu sisi, stabilitas produksi tempe terjaga sehingga pasokan pangan lokal tidak terganggu oleh anomali iklim; di sisi lain, para perajin kecil yang selama ini rentan terhadap gagal fermentasi mendapat instrumen teknis untuk mempertahankan mata pencaharian mereka.
Menuju Pasar Global
Diskusi publik yang diselenggarakan Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi bersama FKS Group dan LKBN ANTARA ini menjadi ruang bagi berbagai pemangku kepentingan untuk menyelaraskan arah pengembangan ragi Nusantara. Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, tempe diharapkan tidak hanya bertahan sebagai pangan sehari-hari masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi contoh konkret bagaimana biodiversitas, sains, teknologi, dan industri dapat berpadu menghasilkan inovasi pangan bernilai tambah yang berpotensi menembus pasar global.
Bagi Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan keragaman ekologis luar biasa, kekayaan mikroba lokal merupakan aset strategis yang selama ini belum tergarap secara maksimal. Ragi adaptif dari UI menandai langkah awal pemanfaatan aset tersebut secara bertanggung jawab—sebuah langkah yang sekaligus menjaga warisan budaya fermentasi Nusantara dan menjawab tantangan pangan di era perubahan iklim.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kemendiktisaintek?Kemendiktisaintek is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kemendiktisaintek matter?Kemendiktisaintek matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.