Orang tertua di Jepang meninggal pada usia 115 tahun
Shigeko Kagawa Tutup Usia di 115 Tahun, Menutup Satu Era Panjang dalam Sejarah Jepang
Bisadonasi.com – Seorang perempuan yang telah menjalani lebih dari satu abad kehidupan di Jepang telah berpulang. Shigeko Kagawa, warga Prefektur Nara di kawasan barat negeri itu, menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis pekan lalu dalam usia 115 tahun. Kabar kepergiannya dikonfirmasi oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada hari Senin. Dengan wafatnya Kagawa, gelar orang tertua yang masih hidup di Jepang kini berpindah ke tangan Fuyo Kishimoto, perempuan berusia 114 tahun yang bermukim di kawasan dekat Kyoto.
Kepergian Kagawa bukan sekadar catatan demografis. Ia menutup babak seorang perempuan yang menapaki profesi kedokteran di era ketika perempuan hampir tidak memiliki ruang di bangku kuliah medis, lalu bertahan selama hampir sembilan dekade dalam praktik klinis. Di tengah lonjakan populasi lanjut usia yang menjadikan Jepang rujukan global dalam kajian penuaan, kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa usia ekstrem bukan hanya soal angka, melainkan soal ketekunan, disiplin, dan pilihan hidup yang konsisten.
Jejak Karier: Dari Ruang Operasi hingga Klinik Pedesaan
Asosiasi medis setempat mencatat bahwa Kagawa lahir pada tahun 1911, di masa ketika Jepang masih bergulat dengan sisa-sisa kekaisaran dan permulaan industrialisasi modern. Ia menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada tahun 1934 — sebuah pencapaian yang pada zamannya sangat jarang diraih oleh perempuan. Setelah lulus, ia menghabiskan sekitar tiga tahun di sebuah rumah sakit di Osaka, menempa diri di departemen kebidanan dan ginekologi sekaligus penyakit dalam.
Pada tahun 1937, Kagawa mengambil langkah yang mengubah arah hidupnya: ia membuka klinik pribadi di Prefektur Nara. Sejak saat itu, selama hampir lima dekade, ia mengabdi sebagai dokter spesialis kandungan dan penyakit dalam. Ia tidak berhenti di ruang praktik saja; Kagawa juga aktif dalam layanan kesehatan masyarakat, menjangkau komunitas yang sulit dijangkau oleh fasilitas medis formal. Ia terus menjalankan praktik hingga memasuki usia 80-an, sebuah durasi karier yang nyaris tidak memiliki preseden dalam sejarah kedokteran Jepang.
Peran di Panggung Nasional dan Internasional
Karier Kagawa tidak berhenti pada ruang praktik. Pada tahun 1970, ketika Osaka menjadi tuan rumah Pameran Dunia (Expo '70), ia ditugaskan menangani keadaan darurat medis bagi para pengunjung dan peserta acara. Peran tersebut menempatkan seorang dokter perempuan dari prefektur pedesaan di garis depan salah satu peristiwa internasional terbesar abad ke-20.
Lebih dari lima dekade kemudian, pada tahun 2021, Kagawa kembali menjadi sorotan ketika ia terpilih sebagai pembawa obor tertua dalam estafet obor Olimpiade Tokyo. Di usia 110 tahun, ia melangkah membawa api Olimpiade — simbol yang menyatukan warisan medisnya dengan semangat kebangsaan Jepang di tengah pandemi global.
Filosofi Hidup: Langkah Kaki sebagai Fondasi
Pada Juli 2025, ketika Kagawa resmi dinobatkan sebagai orang tertua yang masih hidup di Jepang, ia berbagi kebiasaan sederhana yang menurutnya menjadi kunci ketahanannya. Ia mengaku rutin melakukan kunjungan pasien ke rumah-rumah warga dengan berjalan kaki, bahkan hingga larut malam atau di hari-hari libur ketika orang lain beristirahat.
"Umur panjang saya berawal dari kebiasaan sering berjalan kaki selama bertahun-tahun."
Pernyataan itu bukan sekadar anekdot. Bagi komunitas geriatri dan epidemiologi, aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara konsisten sepanjang dekade terbukti berkorelasi dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan kognitif, dan mortalitas dini. Kebiasaan Kagawa — berjalan puluhan kilometer setiap hari selama puluhan tahun — secara tidak langsung menjadi studi kasus hidup tentang bagaimana perilaku sederhana, jika dipertahankan tanpa henti, dapat memperpanjang rentang hidup manusia melampaui batas yang selama ini dianggap mustahil.
Implikasi dan Warisan
Dengan kepergian Kagawa, Jepang kini memasuki fase di mana populasi berusia di atas 100 tahun terus bertambah, sementara angka kelahiran menurun tajam. Pemerintah dan lembaga riset di negara tersebut menjadikan setiap kasus supercentenarian sebagai data berharga untuk memahami faktor genetik, lingkungan, dan perilaku yang memungkinkan seseorang melampaui ambang usia ekstrem. Warisan Kagawa — seorang dokter perempuan yang bertahan hampir sembilan dekade dalam praktik, melayani komunitas pedesaan, dan tetap aktif hingga usia 115 — menjadi bagian dari narasi tersebut.
Fuyo Kishimoto, yang kini memegang gelar orang tertua di Jepang, tinggal di kawasan dekat Kyoto dan berusia 114 tahun. Ia akan menjadi subjek perhatian publik dan akademis hingga akhir hayatnya, sebagaimana Kagawa menjadi demikian selama bertahun-tahun. Bagi masyarakat Jepang, setiap tahun yang dijalani oleh seorang supercentenarian bukan hanya prestasi individual, melainkan cermin dari sistem kesehatan, budaya perawatan, dan ketahanan sosial yang menopang kehidupan di usia paling lanjut.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Orang tertua di Jepang meninggal?Orang tertua di Jepang meninggal is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Orang tertua di Jepang meninggal matter?Orang tertua di Jepang meninggal matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.